Logo

11 Penyebab Kanker Payudara dan Faktor Risikonya Lengkap!

Penulis: Tim Kaiser Cancer Center

Bagikan:

Ditinjau oleh

detail image article
General Topic

Kanker payudara terjadi akibat pertumbuhan sel tidak terkendali di jaringan payudara, tetapi penyebab pastinya pada sebagian besar kasus belum diketahui secara spesifik. Namun, ada beberapa faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara, seperti faktor genetik (mutasi BRCA1 dan BRCA2), riwayat hormonal, dan gaya hidup.

Memahami penyebab dan faktor risiko ini adalah langkah pertama untuk lebih waspada dan melakukan deteksi dini. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

Apa Bedanya "Penyebab" dan "Faktor Risiko"?

Dua istilah ini sering dianggap sama, padahal berbeda secara medis. Berikut perbedaannya:

  • Penyebab adalah mekanisme biologis langsung yang memicu sel normal berubah menjadi sel kanker. Namun, penyebab pasti perubahan tersebut sering kali tidak dapat diketahui secara pasti pada setiap kasus.

  • Faktor risiko adalah kondisi atau kebiasaan yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker, tetapi tidak selalu menjadi penyebab langsung. Memiliki satu atau lebih faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan mengalami kanker payudara, begitu pun sebaliknya.

Bagaimana Kanker Payudara Terjadi?

Kanker payudara berawal dari sel-sel di jaringan payudara, biasanya di kelenjar susu (lobulus) atau saluran pengalir susu (duktus) yang mengalami kerusakan DNA dan mulai tumbuh tidak terkendali hingga membentuk tumor.

Kerusakan DNA ini umumnya merupakan kombinasi dari beberapa faktor berikut:

  • Faktor genetik, seperti mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.
  • Faktor hormonal, terutama paparan estrogen jangka panjang.
  • Gaya hidup, seperti kurangnya aktivitas fisik, obesitas, konsumsi alkohol, dan merokok.
  • Faktor lingkungan, termasuk paparan radiasi di area dada.

Baca juga: Jenis Pemeriksaan Kanker Payudara yang Wajib Kamu Ketahui

Faktor Risiko Kanker Payudara

Faktor risiko kanker payudara terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang tidak dapat diubah (bersifat biologis/bawaan) dan yang dapat dimodifikasi (berkaitan dengan gaya hidup).

Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah

Faktor risiko yang tidak dapat diubah berkaitan dengan jenis kelamin, usia, serta faktor genetik. Berikut detail penjelasannya:

  • Jenis kelamin. Wanita jauh lebih berisiko dibandingkan dengan pria karena kadar hormon estrogen yang berperan dalam pertumbuhan jaringan payudara lebih tinggi.
  • Usia. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada wanita pascamenopause, seiring melemahnya mekanisme perbaikan sel tubuh.
  • Riwayat keluarga. Memiliki anggota keluarga tingkat pertama, seperti ibu atau saudara perempuan, yang pernah mengalami kanker payudara dapat meningkatkan risiko hingga sekitar dua kali lipat. Risiko ini dapat semakin tinggi jika terdapat lebih dari satu anggota keluarga yang terdiagnosis.
  • Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 juga merupakan salah satu faktor genetik yang berkaitan dengan kanker payudara dan diperkirakan berkontribusi pada sekitar 5–10% kasus.
  • Geografi, etnisitas, dan ras. Angka kejadian kanker payudara umumnya lebih tinggi di negara maju, yang diduga berkaitan dengan pola makan tinggi lemak, usia reproduksi lebih tua, dan gaya hidup kurang aktif.
  • Riwayat menstruasi dan menopause. Menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun atau menopause setelah usia 55 tahun memperpanjang paparan tubuh terhadap estrogen, sehingga meningkatkan risiko.
  • Riwayat reproduksi. Wanita yang belum pernah hamil, atau memiliki anak pertama di atas usia 30 tahun, berisiko lebih tinggi.
  • Tinggi badan. Wanita dengan postur tubuh lebih tinggi memiliki risiko sedikit lebih besar. Hubungan ini diduga berkaitan dengan paparan hormon pertumbuhan dan faktor biologis lainnya selama masa pertumbuhan.

Baca juga: Paget’s Disease pada Payudara: Inilah Gejala hingga Pengobatannya

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi

Di sisi lain, faktor risiko kanker payudara yang dapat dimodifikasi berkaitan dengan gaya hidup, pola makan, dan terapi tertentu. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Obesitas, terutama setelah menopause, meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh dan dapat merangsang pertumbuhan sel abnormal di jaringan payudara.
  • Kurang aktivitas fisik dan nutrisi tidak seimbang. Menjaga berat badan ideal melalui olahraga teratur dan pola makan bergizi seimbang (sayur, buah, biji-bijian) dapat membantu menurunkan risiko.
  • Konsumsi alkohol dan merokok. Alkohol dapat memicu kenaikan kadar estrogen, sedangkan zat beracun dalam rokok dapat merusak DNA pada sel payudara.
  • Terapi hormon jangka panjang. Penggunaan terapi hormon pengganti (estrogen dan progesteron) selama lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Karena itu, penggunaannya harus dilakukan di bawah pengawasan medis yang ketat.

Baca juga: Perbedaan SADARI dan SADANIS. Metode dan Waktunya!

Cara Mencegah Kanker Payudara

Meski faktor genetik memang tak bisa diubah, tetapi kamu tetap bisa menekan risiko kanker payudara lewat gaya hidup sehat, menyusui, serta pemeriksaan atau skrining kanker payudara secara rutin. Berikut beberapa cara mengurangi risiko kanker payudara yang telah terbukti secara medis.

1. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan tetap ideal dan menurunkan kadar estrogen berlebih dalam tubuh. Hal ini didukung dengan studi oleh Poorolajal, Heidarimoghis. dkk. dalam jurnal Journal of Research in Health Sciences yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang cukup berkaitan dengan penurunan risiko kanker payudara sekitar 10% dibandingkan dengan orang yang kurang aktif1.

2. Menjaga Berat Badan Ideal

Setelah menopause, produksi estrogen dari ovarium menurun sehingga jaringan lemak menjadi salah satu sumber utama estrogen dalam tubuh. Karena itu, kelebihan berat badan pada fase ini dapat meningkatkan paparan estrogen dan turut meningkatkan risiko kanker payudara.

Hal ini sejalan dengan studi oleh Hao, Jiang, dkk. dalam jurnal Obesity Research & Clinical Practice yang menjelaskan bahwa pertambahan berat badan di usia dewasa maupun setelah menopause merupakan indikator kuat peningkatan risiko kanker payudara pascamenopause, terutama pada wanita Asia2.

3. Membatasi Konsumsi Alkohol

Alkohol memicu kenaikan estrogen sekaligus merusak DNA sel payudara, yang akhirnya merangsang pertumbuhan sel abnormal. Makin banyak dikonsumsi, risikonya pun makin tinggi. Bahkan satu gelas sehari saja sudah bisa menaikkan risiko kanker payudara sebanyak 7%–10%. Oleh karena itu, penting untuk membatasi konsumsi alkohol sebisa mungkin.

4. Tidak Merokok

Zat kimia dalam rokok dapat merusak DNA sel payudara secara langsung sehingga turut memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Berhenti merokok, atau tidak memulainya sama sekali, adalah salah satu langkah paling sederhana untuk menghindari risiko ini.

5. Menyusui

Menyusui memicu perubahan hormon yang melindungi jaringan payudara. Makin lama masa menyusui, efek perlindungannya pun makin optimal. 

Hal ini telah dibuktikan melalui beberapa penelitian, salah satunya yang dilakukan oleh Qiu, dkk. dalam jurnal Computational and Mathematical Methods in Medicine yang menjelaskan bahwa menyusui, terutama dengan durasi yang lebih lama, dapat dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara.

Baca juga: Ciri Kanker Payudara pada Ibu Menyusui yang Perlu Diwaspadai!

6. Rutin Melakukan Deteksi Dini Kanker Payudara

Langkah-langkah di atas memang bisa menekan risiko, tetapi tidak bisa mencegah kanker payudara sepenuhnya. Maka dari itu, deteksi dini tetap merupakan kunci utama yang tidak boleh dilewatkan. 

Beberapa cara deteksi dini kanker payudara yang umum digunakan meliputi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan mammografi secara berkala. Pemeriksaan ini dapat membantu menemukan kelainan lebih awal, ketika peluang keberhasilan pengobatan umumnya lebih tinggi dibandingkan jika kanker baru terdeteksi pada stadium lanjut.

Panduan lengkapnya dapat dilihat di artikel SADARI dan Pemeriksaan Mammografi.

7. Konsultasi Genetik bagi Kelompok Risiko Tinggi

Bagi pemilik mutasi gen BRCA1/BRCA2 atau individu dengan riwayat keluarga dengan kanker payudara yang kuat, penerapan gaya hidup sehat sebaiknya didampingi konsultasi dokter spesialis bedah onkologi atau genetika. Dari hasil konsultasi tersebut, dokter dapat menentukan langkah pemantauan yang sesuai dengan profil risiko pasien.

Meski tidak ada metode yang menjamin perlindungan mutlak, kombinasi langkah pencegahan ini terbukti efektif menekan risiko sekaligus meningkatkan peluang kesembuhan apabila kanker tetap berkembang.

Baca juga: Kemoterapi Kanker Payudara: Prosedur & Risiko Efek Samping

Kesimpulan

Kanker payudara dipicu oleh gabungan faktor genetik, hormon, gaya hidup, dan lingkungan. Dari sisi genetik, mutasi BRCA1 dan BRCA2 menjadi risiko yang paling tinggi. Walau faktor keturunan tak bisa diubah, kamu tetap bisa menekan risikonya lewat gaya hidup sehat dan deteksi dini.

Jika kamu menemukan perubahan mencurigakan pada payudara, segera konsultasikan ke dokter. Lakukan Pemeriksaan Klinis di Kaiser Cancer Center untuk diagnosis akurat dan penanganan profesional. Sayangi dirimu dan jaga kesehatan payudara sejak sekarang bersama Kaiser Cancer Center, #CareWithClarity.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Gejala awal kanker payudara seperti apa? 

Gejala awal kanker payudara yang paling umum meliputi benjolan baru pada payudara atau ketiak, perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan tekstur kulit (misalnya tampak seperti kulit jeruk), puting yang tertarik ke dalam, hingga keluarnya cairan dari puting di luar masa menyusui.

Apa makanan penyebab kanker payudara? 

Tidak ada satu jenis makanan yang secara spesifik menyebabkan kanker payudara. Namun, konsumsi tinggi lemak trans, makanan olahan, gula berlebih, dan alkohol secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko.

Apa penyebab kanker payudara di usia muda? 

Kanker payudara pada usia muda (umumnya sebelum 40 tahun) lebih sering dikaitkan dengan faktor genetik, terutama mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, dibandingkan dengan kasus pada usia lebih tua. Riwayat keluarga yang kuat juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai pada kelompok usia ini. 

Referensi

  1. Poorolajal J, Heidarimoghis F, Karami M, Cheraghi Z, Gohari-Ensaf F, Shahbazi F, et al. Factors for the Primary Prevention of Breast Cancer: A Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies. J Res Health Sci. 2021;21(3):e00520. https://doi.org/10.34172/jrhs.2021.57 
  2. Hao Y, Jiang M, Miao Y, Li X, Hou C, Zhang X, et al. Effect of Long-Term Weight Gain on the Risk of Breast Cancer Across Women’s Whole Adulthood as Well as Hormone-Changed Menopause Stages: A Systematic Review and Dose–Response Meta-Analysis. Obesity Research & Clinical Practice. 2021;15(5):413-420. https://doi.org/10.1016/j.orcp.2021.08.004
  3. Qiu R, Zhong Y, Hu M, Wu B. Breastfeeding and Reduced Risk of Breast Cancer: A Systematic Review and Meta-Analysis. Comput Math Methods Med. 2022;2022:8500910. https://doi.org/10.1155/2022/8500910 
  4. Breast Cancer Research Foundation. Alcohol and Breast Cancer Risk [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.bcrf.org/about-breast-cancer/alcohol-breast-cancer-risk/
  5. Cleveland Clinic. Can Exercise Reduce Your Risk of Breast Cancer? [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://health.clevelandclinic.org/exercise-more-to-reduce-breast-cancer-risk
  6. Kaiser Cancer Center. Pemeriksaan Mammografi [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.kaisercancercenter.id/artikel/pemeriksaan-mammografi
  7. Medscape. Which Family History Characteristics Increase the Risk for Breast Cancer? [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.medscape.com/answers/1945957-180219/which-family-history-characteristics-increase-the-risk-for-breast-cancer
  8. National Cancer Institute. BRCA1 and BRCA2: Cancer Risks and Management (PDQ®) [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.gov/publications/pdq/information-summaries/genetics/brca-genes-hp-pdq
  9. National Cancer Institute. Obesity and Cancer Fact Sheet [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/obesity/obesity-fact-sheet
  10. Susan G. Komen Foundation. Breast Cancer Risk Factors: Exercise (Physical Activity) [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.komen.org/breast-cancer/risk-factor/lack-of-exercise/
  11. Susan G. Komen Foundation. Family History of Breast, Ovarian, Pancreatic or Prostate Cancer [Internet]. [Diakses pada 2026]. Diakses dari: https://www.komen.org/breast-cancer/risk-factor/family-history-cancer/

Artikel Terkait

A doctor smiling at a patient at Kaiser Cancer Center

Tim Kaiser Siap Menemani Setiap Langkahmu

Kami percaya, setiap langkah menuju pemulihan layak mendapat dukungan terbaik. Tim Kaiser hadir untuk mendampingimu—membawa ketenangan, harapan, dan dukungan di setiap tahap perjalananmu melalui pendekatan medis berteknologi mutakhir dan berstandar global.

Dapatkan Informasi Terbaru dari Kaiser

Subscribe untuk tetap terhubung dan menerima update terbaru dari Kaiser.